Kamis, 03 April 2014

Bolehkah?


Bolehkah aku menangis?
Menangis karna aku sudah tak tahan lagi..
Menangis karna mendapati diriku yang tak bisa sedikit berusaha lebih kuat menahan kristal-kristal air mata ini.
Bolehkah aku berteriak?
Hanya untuk mengeluarkan sesalku
Hanya untuk merasa lega..
Hanya untuk bernafas tanpa ada yang mengikat sekitar rongga alat pernafasanku sendiri..
Bolehkah aku berhenti ?
Terlihat bodohkah aku jika aku berhenti di setapak jalan yang membuatku jenuh, membuat aku meras lelah, membuat aku ingin tertidur.
Aku hanya ingin berhenti, berhenti dari segala hal yang mengejarku.
Dari semua hal yang membuat aku merasa kecil. Berhenti sedetik dari semua hal yang membuat aku merasa sakit!
Bolehkah aku sejenak sembunyi?
Menyembunyikan diri yang bodoh ini, ke tempat yang bisa membuat nyaman.
Sekedar bersembunyi dalam heningnya dunia, atau bersembunyi dalam gelapnya ruang.
Aku hanya butuh diam, Butuh didengar! Butuh jawaban..
Apa boleh aku berlari?
Berlari semua hal yang mengejar..
Berlari dari segala hal yang menghalangiku.
Berlari untuk menjauhi hal yang mengintimidasiku dengan kejam..
Bolehkah aku membenci?
Mencoba membenci dalam setiap tatapan, yang aku tau akhirnya aku hanya bisa menganggumi.
Aku lelah..
Tolong, Izinkan aku.. Untuk sekedar melupakanmu sedetik saja

Rabu, 02 April 2014

Saat Kau Ada


Berlari... 
Berusaha mengenggam apa yang ingin digenggam.
Tapi yang ku genggam masih hanyalah sebuah bayangan..
Haha,bayangan itu..
Berlari dengan sangat cepat.
Bayangan yang sangat ku kenal.
Bayangan yang selalu ku tulis. 
Bayangan yang ingin sekali terus ku lihat. 
Walau sekalipun bayangan itu tak pernah mengenalku. 
Bayangan itu tak pernah sekalipun membacaku. 
Bayangan yang sama sekali tak peduli bila aku berada di samping ataupun tak berada di sampingnya. 
Dia tidaklah pernah sama sekali merasa ada sosok yang diam-diam melihatnya dengan senyum yang selalu terukir di pipi sang sosok. 
Dia juga tidak pernah tau ada sosok yang menulis , melukiskan , mendiskripsikan, menceritakan, memberitahukan betapa sosok itu mengangguminya.

Dia bahkan harus mencari tempat penumpah butiran-butiran kristal yang jatuh dari matanya ketika si sosok melihat Dia bersama Teman perempuannya begitu dekat.
Sosok itu ingin sekali seperti itu. Tak lagi menganggumi dalam lembaran kertas. 
Tak hanya mengatakan rasa sukanya pada foto yang di pajang di kotak khususnya.  
Dia butuh sebuah kenyataan. 

Bahwa si sosok tidaklah menjadi seseorang yang hidup hanya dengan sebuah harapan kosong lagi, si sosok tidak hanya menjadi seorang pemimpi. 
Pengkhayal yang pada akhirnya berakhir dengan akhir buruk.
Sosok itu AKU.
Ketika kesakitan diam-diam datang menghujam ku.
Mencoba membuat aku jatuh, dan dia berhasil. Itu sudah cukup menghancurkan aku. 
Sadarkah ada seseorang yang begitu melihat mu dengan sempurna?
Tak pernah peduli bagaimana denganmu. Yang dia pedulikan ‘Saat kau ada’